Oleh: twpkapoposang | Agustus 19, 2010

Dukungan Masyarakat Pulau Kapoposang terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang


Kepulauan Kapoposang merupakan salah satu dari delapan kawasan konservasi  yang telah diselaraskan dari Kementrian Kehutanan ke Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Berita Acara Serah Terima Kawasan Suaka Alam Nomor : BA. 01/ Menhut-IV/ 2009 dan Nomor : 108/ MEN. KP/ III/ 2009 tanggal 4 Maret 2009. Berdasarkan Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.66/Men/2009 Kepulauan Kapoposang ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya.

Untuk mengetahui sejauh mana dukungan masyarakat di Pulau Kapoposang terhadap pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang. Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang dibantu oleh beberapa mahasiswi Jurusan Ilmu Kelautan UNHAS melakukan survey  di Pulau Kapoposang.

Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan menggunakan Kuisioner, dengan metode pengambilan data ini memungkinkan untuk mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada. Daftar pertanyaan yang akan digunakan untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan (Hendri 2009dalam Dayanti, 2010).

1. Jumlah Penduduk

Dari hasil wawancara yang dilakukan, penduduk Desa Mattiro Ujung khususnya di Pulau Kapoposang berjumlah 454 jiwa yang  meliputi 225 laki-laki dan 229 perempuan, dengan jumlah kepala keluarga 113 (Tabel 1).

RT Laki-Laki Perempuan Kepala Keluarga
I 80 84 37
II 55 53 27
III 45 48 21
IV 45 44 28
Jumlah 225 229 113

2.  Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat di Pulau Kapoposang yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 35%, Sekolah Dasar (SD) sebanyak 57.5%, SLTA sebesar 5%, dan Sarjana 2.5% (Gambar 3). Kurangnya masyarakat yang melanjutkan pendidikan hingga tingkat SLTA dan perguruan tinggi disebabkan karena minimnya sarana pendidikan dan letak lokasi Kepulauan Kapoposang sangat jauh dari pusat kota. Namun, beberapa dari masyarakat tetap melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi yang terletak di kota Pangkep dan kota Makassar (Zaldi,2010).

3. Mata Pencaharian Penduduk

Sebagian besar mata pencaharian penduduk di Pulau Kapoposang adalah Nelayan Tangkap (75%), Pedagang (12.5%), Pegawai Negeri Sipil (2.5%) dan lain-lain (10%) contohnya ibu rumah tangga dan pengangguran. Namun nelayan di Pulau Kapoposang masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Jika kondisi cuaca sedang buruk nelayan di Pulau Kapoposang tidak dapat melaut dan hanya tinggal saja di rumah, untuk mengatasi masalah tersebut perlu dicarikan solusi berupa mata pencaharian alternative bagi masyarakat agar tetap produktif selama cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu mata pencaharian alternative merupakan solusi untuk mengurangi tekanan yang berlebih terhadap sumberdaya alam.

4. Pengalihan Pengelolaan dari BBKSDA ke BKKPN Kupang

Selama kurang lebih satu tahun semenjak adanya pengalihan pengelolaan kawasan konservasi kepulauan kapoposang dari kementrian kehutanan ke kementrian kelautan dan perikanan, terlihat sosialisasi terhadap masyarakat yang berada di dalam kawasan TWP Kepulauan Kapoposang belum menunjukkan hasil yang optimal. Dari hasil survey yang dilakukan, masyarakat Pulau Kapoposang yang telah mengetahui adanya peralihan pengelolaan hanya 45% atau belum sampai setengah dari jumlah responden, sementara yang tidak mengetahui sebesar 35% sedangkan yang ragu-ragu 20%.  Kebanyakan masyarakat Pulau Kapoposang yang belum mengetahui adanya peralihan tersebut berasal dari warga rukun tetangga (RT) III dan IV disebabkan jauhnya jarak antara RT III dan IV dengan Field Office, hal ini berdampak kurangnya interaksi antara masyarakat dengan petugas yang selama ini melakukan sosialisasi disamping itu sekat-sekat serta konflik horizontal dalam masyarakat Pulau Kapoposang turut memberikan andil kurang tersosialisasikannya hal tersebut.

5. Persepsi Masyarakat terhadap penetapan Kapoposang dan pulau sekitarnya sebagai kawasan konservasi perairan nasional

Semenjak tahun 1996 kawasan Kepulauan Kapoposang telah ditetapkan menjadi kawasan konservasi dibawah pengelolaan BBKSDA Sulawesi Selatan. Berbagai program terkait konservasi telah berhasil dilaksanakan oleh pengelola sebelumnya di kawasan Kepulauan Kapoposang yang akhirnya merubah persepsi masyarakat yang dulunya kurang peduli terhadap kelestarian sumberdaya hayati yang ada di wilayahnya menjadi.

Penetapan Kepulauan Kapoposang sebagai kawasan konservasi laut mendapat dukungan yang besar dari masyarakat Pulau Kapoposang, persentase responden yang menyatakan setuju terhadap penetapan KKL sebesar 82% dengan alasan penetapan Kepulauan Kapoposang menjadi kawasan konservasi laut dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan mereka. Sedangkan masyarakat yang tidak setuju terhadap penetapan kawasan konservasi sebesar 3%, sedangkan yang ragu-ragu sebesar 15%.

6. Aktivitas Desctructive Fishing

Dari hasil pengamatan terhadap alat tangkap yang digunakan, sebagian besar masyarakat menggunakan pancing,bubu,dan jala yang tidak merusak. Grafik menunjukkan kegiatan masyarakat yang tidak merusak terumbu karang sebesar 98% sedangkan kegiatan yang merusak sebesar 2%.

Kegiatan masyarakat Pulau Kapoposang yang merusak terumbu karang sebagian besar karena eksploitasi kima, selain itu ada juga yang menggunakan karang sebagai bahan baku untuk membuat pondasi rumah. Hal ini tentunya memerlukan perhatian bagi BKKPN sebagai pengelola meskipun persentasenya kecil namun jika dilakukan terus menerus dapat menyebabkan kerusakan terhadap ekosistem terumbu karang di Pulau Kapoposang.

Penduduk Pulau Kapoposang sangat mengharapkan adanya tingkat kesadaran yang sama pada masyarakat pulau di luar TWP Kepulauan Kapoposang yang selama ini melakukan penangkapan di kawasan TWP Kapoposang karena aktivitas yang dilakukan cenderung merugikan penduduk Pulau Kapoposang dalam jangka waktu berkepanjangan dikarenakan alat tangkap yang digunakan berupa bahan peledak dan bius (Zaldi,2010)

7. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan TWP Kepulauan Kapoposang

Keaktifan masyarakat untuk ikut berperan dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi merupakan factor pendukung efektifnya pengelolaan kawasan tersebut, dengan adanya keterlibatan dalam pengelolaan kawasan konservasi masyarakat yang berada di kawasan konservasi akan timbul rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga dan melestarikan sumberdaya hayati di kawasan sekitarnya.

Masyarakat di TWP Kepulauan Kapoposang khususnya di Pulau Kapoposang sendiri sebagian menginginkan adanya keterlibatan masyarakat, 65% sedangkan 35% tidak menginginkan keterlibatan dalam pengelolaan kawasan konservasi.  Masyarakat Pulau Kapoposang menginginkan adanya keterlibatan mereka dalam pengelolaan TWP Kepulauan Kapoposang. keterlibatan yang dimaksudkan adalah dalam hal perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.

 

sumber:

Dayanti,S.R.2010.Survey Kesadaran dan Dukungan Masyarakat terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi TWP Pulau Kapoposang.Laporan Praktek Kerja Lapang.Jurusan Ilmu Kelautan.Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.Universitas                                Hasanuddin.Makassar

Zaldi, S.J. 2010. Survei Sosial Ekonomi dan Ketaatan Masyarakat terhadap Kawasan Konservasi Laut (KKL) Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Kapoposang Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.Laporan Praktek Kerja Lapang. Jurusan Ilmu Kelautan.Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.Universitas Hasanuddin.Makassar.

 


Responses

  1. I LIKE YOUR BLOG FRIEND…….
    GOOD LUCK

  2. @Lukman : Thkyu parnerr….

  3. Saya ingin melihat pulau Kapoposang tidak dari foto2 yang cantik.

    • DAtang saja langsung

      • Saya tidak sempat datang, karena harus scan kesehatan di Jakarta, hanya teman2 saja yang kesana. Apa boleh buat next time lah. Saya di kalimantan Timur, Balikpapan tepatnya. Trims

      • Lain waktu mudah2an bisa berkunjung..

  4. Senang sekali teman2ku bisa ke kapoposang. Mereka tidak puas karena hanya sehari saja. Tahun depan 2012 kami akan ke Kapoposang, diperkirakan akan banyak peserta yang akan kesana.

    • Teman2 darimana?kapan mereka ke kapoposang?

      • Teman2 sma dari Makassar ji. Thanks.

    • Ok mas,hub.kami yah kalo mau ke kapoposang..nomor kontak ada di halaman kontak blog twp kapoposang.

      • Akhir bulan Juni 2012 kami ke Kapoposang. Kami ada sekitar 45 orang. Ini pertama kali saya ke Kapoposang. Terakhir pulau terjauh yang saya kunjungi dengan orang tua saya adalah pulau Badi sekitar 40 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih smp.
        Ternyata di Kapoposang ada juga Kalong ya….? Mengapa mereka bisa ada disana, sejak kapan beradanya. Juga pohon Pinusnya. Mengapa bisa ada dipulau ini? Bisa di jelaskan?

      • kalo keberadaan kalong disana belum ada penelitian yang mendalami tentang itu,,namun menurut saya kebedaraan kalong disitu mungkin karena pulau kapoposang menyediakan makanan melimpah sehingga kalong bisa bertahan hidup di pulau terpencil nan jauh itu.kalo pohon yang anda maksud itu bukan pinus. tapi cemara laut yang merupakan vegetasi pantai yang umum ditemukan di Pulau pulau kecil dan pesisir pantai

  5. Oh ya mau tanya lagi. Bagaimana menghilangkan rumput-rumput yang ada disekitar pulau Kapoposang. Bentuknya seperti pita dan berwarna hijau. Saat kita mau menuju pasir putih, kita harus lewati rumput-rumput tersebut. Rumput jenis ini sepertinya tidak ada di Samalona. Mohon penjelasan.
    Nyamuk memang tidak ada di Kapoposang.

    • Rumput-rumput yg dimaksud adalah padang lamun..padang lamun merupakan salah satu ekosistem laut yg secara ekologis memiliki fungsi di dalam ekosistem lautan.
      Jika dihilangkan justru akan merugikan,krn di ekosistem tersebut ikan-ikan melakukan pemijahan(spawning ground),daerah asuhan(nursery ground),dan juga sbg daerah mencari makan(feeding ground).selain itu juga secara alami berfungsi sbg pemecah ombak alami untuk melindungi pantai dr abrasi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: