Oleh: twpkapoposang | Agustus 26, 2010

Alur Sejarah Pengelolaan Sumberdaya Laut di TWP Kapoposang


Pengelolaan sumberdaya laut di Pulau Papandangan dimulai dengan kedatangan masyarakat Pulau Gondong Bali untuk menanam pohon kelapa sekitar tahun 1920-an yang kemudian mendirikan 7 buah rumah di Pulau Papandangan. Pada saat itu Pulau Papandangan memang masih masuk ke dalam wilayah Pulau Gondong Bali yang dipimpin oleh seorang “gallarang” yang berstatus sebagai tuan tanah. Pada era tahun 1930-1940 masyarakat di kedua pulau ini sudah mulai berkembang dan mulai melakukan aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan pancing dengan komoditas utama adalah ikan sunu,selain itu masyarakat juga mengambil teripang (Holoturidea),Japing-japing (kerang mutiara),Kepala Kambing (Cassis cornuta),susu bundar (Lola/Trochus nilotichus),kima (Tridacna), dll. Saat itu Pulau Pulau Papandangan dipimpin oleh Galla Dg.Soppe seorang punggawa besar yang berasal dari Segeri Kab.Pangkep.

Antara tahun 1940-1945 penjajah belanda mulai masuk ke pulau-pulau kecil sehingga banyak masyarakat yang mengungsi ke luar pulau. Belanda membagi-bagi wilayah kepulauan spermonde menjadi beberapa wilayah yang dipimpin oleh “Gallarang” (setingkat kepala kampong). Gallarang yang dibentuk meliputi Gallarang Balang Lompo,Barrang Lompo,Sapuka,Salemo,Kalukalukuang dan Gallarang Kodingareng. Pulau Papandangan dan sekitarnya masuk ke dalam pemerintahan Gallarang Barrang Lompo.

Panjajahan belanda membawa penderitaan bagi masyarakat di sekitar Pulau Papandangan. setelah jaman kemerdekaan antara tahun 1954-1957 penderitaan masyarakat Pulau Papandangan dan sekitarnya belum juga berakhir,kondisi laut di perairan Pulau Papandangan dan sekitarnya dilanda tragedi keamanan  oleh perompak bersenjata dari daratan yang melakukan teror dan merampas harta benda. Pada tahun 1950-an juga telah dibentuk Gallarang Gondong Bali yang meliputi Pulau Kapoposang,Papandangan,Gondong Bali,Tambakhulu,Suranti dan Pamanggangan yang dikepalai oleh Muh.Saleh sebagai Gallarang pertama kemudian digantikan oleh Muh.Syahrir yang wilayah Administratid masih masuk ke Makassar.

Penangkapan ikan dengan menggunakan bom mulai dikenal oleh masyarakat Pulau Kapoposang dan Papandangan, kegiatan ini berlangsung antara tahun 1960-1980-an. Namun pada tahun 1980-1990an aktivitas pemboman berhenti, masyarakat Pulau Kapoposang beralih ke alat pancing dengan target utama ikan sunu karena ikan-ikan ini bernilai ekonomis tinggi dan banyak dicari oleh restaurant Cina,Taiwan,Hongkong, dan Singapura terutama dalam keadaan hidup. Sedangkan masyarakat Pulau Papandangan yang mempunyai armada penangkapan yang lebih besar beralih menjadi pa’gae (Nelayan yang menggunakan jarring purse/pukat cincin)

Tahun 1995-1997, 6 pulau di Kepulaun Kapoposang dimekarkan menjadi 2 desa yaiitu Desa Mattiro Ujung (Pulau Kapoposang dan Pulau Pandangan) dan Mattiro Matae (meliputi; Pulau Gandongbali, Tambakulu, Suranti dan Pamanggangan), kepala desa pertama yang menjabat adalah Bapak Laipung (seorang mantan danramil) menjabat selama 5 tahun yang selanjutnya digantikan oleh Baso Rahmat yang menjabat sampai sekarang. Dalam kurun waktu itu pula dibangun dermaga untuk kepentingan pendaratan kapal.

Program-program bantuan dan pendampingan masyarakat mulai masuk ke Kepulauan Kapoposang pada era 1995-1999-an. LP3M merupakan salah satu LSM yang melakukan kegiatan-kegiatan sosial melalui pembentukan kelompok usaha bersama,kelompok perempuan,dan kelompok konservasi. Selain itu juga kegiatan-kegiatan seperti pembagian beras,dan program kesehatan juga dilaksanakan oleh JICA dan Kementrian Lingkungan Hidup.

Tahun 1996-2009 Kepulauan Kapoposang ditetapkan sebagai Taman Wisata Laut (TWL) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan melalui SK. No. 588/kpts-II/1996, Tanggal 12 September 1996 dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Selatan. Pada tahun yang sama masuk sarana listrik menggunakan mesin generator dengan bantuan dana bersumber dari bangdes.

Tahun 1998 pihak swasta mulai melirik Pulau Kapoposang sebagai Pulau yang memiliki potensi wisata dengan prospek yang cerah. Pada tahun ini dilakukan kontrak kerjasama pengelolaan wisata bahari dengan pihak swasta dan telah dibangun resort wisata bagari yang dikelola oleh swasta.

Tahun 2004 dan 2005 program pengembangan kecamatam (PPK)masuk ke TWA Kapoposang dengan program utama memfasilitasi bantuan berupa kapal penumpang dana bergulir dan air bersih. Selain itu pada tahun ini sebagian masyarakat Pulau Kapoposang mencoba beralih profesi dari pemancing menjadi nelayan gae,pa’lampu dan mencari ikan teri.

Tahun 2005 program coremap II masuk ke wilayah Pangkep termasuk wilayah kapoposang dan pulau-pulau sekitarnya dan berakhir pada tahun 2010. Dan pada tahun 2009 Kepulauan Kapoposang beralih pengelolaannya dari Kementrian Kelautan dan Perikanan dibawah pengelolaan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang. Berdasarkan Kepmen No.66/MEN/2009 TWAL KEpulauan Kapoposang berubah nomenklatur menjadi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang.

Sumber : Hasil PRA COREMAP II kabupaten Pangkep, Tahun 2006

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: