Oleh: twpkapoposang | Desember 29, 2010

Ledakan populasi Acanchaster plancii dan kerusakan terumbu karang


Di tahun 1995 melalui muncul yang disampaikan dalam suatu seminar ilmiah kelautan mengenai ditemukannya ledakan populasi Acanchaster plancii di Indonesia,  spesies ini kemudian menjadi perhatian dari para peneliti untuk mengetahui sebarapa besar dampak kerusakan perairan akibat melimpahnya koloni hewan tersebut. Berturut-turut setelah tahun 1995 dilaporkan beberapa wilayah mengalami ledakan populasi Acanchaster plancii diantaranya Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat, dan Pantai Bama, Taman Nasional Baluran (Bachtiar, unpublished data). Pada tahun 2005, peledakan populasi (outbreak) bintang-laut A. planci dilaporkan terjadi di Pulau Kapoposang, Sulawesi Selatan (Yusuf 2008).

Ada apa di balik spesies ini sehingga kehadiran spesies ini dalam jumlah yang besar begitu merisaukan berbagai pihak. Acanchaster plancii atau lebih dikenal dengan nama ‘COT’ kependekan dari ‘crown of thorns’ merupakan salah satu spesies dari family Echinodermata Struktur tubuh A. planci sama dengan struktur umum dari Asteroidea. Badan berbentuk radial simetris, dengan tubuh mirip cakram bersumbu oral dan aboral yang mempunyai lengan-lengan. Bagian oral (mulut) menghadap ke bawah sedangkan bagian aboral menghadap ke atas. Di bagian aboral terdapat madreporit dan anus. Lubang madreporit berjumlah 6-13, sedangkan lubang anus berjumlah 1-6 buah. Bintang laut A. planci mempunyai lengan antara 8-21 buah. Duri-duri yang beracun berukuran 2-4 cm menghiasi permukaan aboral tubuh cakram dan lengan-lengannya.

Seperti bintang laut lainnya, cara makan bintang laut berduri yaitu dengan menekan lambungnya ke luar melalui mulut dan mengeluarkannya di luar tubuh, dalam suatu proses yang disebuteversion (seperti memuntahkan). Pada waktu akan makan maka bintang laut berduri ini akan menempatkan dirinya pada suatu substrat karang yang dianggap cocok, mengeluarkan lambungnya,kemudian lambung ini akan melebarmenutupi permukaan karang pada suatuarea yang hampir setengah dari diametertubuhnya sendiri. Kemudian melalui lambungnya ini akan dikeluarkan enzim-enzim pencernaan ke dalam jaringan tubuh karang sehingga akan teruraikarena proses cerna, setelah itu menyerap jaringan tubuh yang sudah dicerna bersamaan dengan menarik lambungnya kembali.

Karena cara makan seperti ini memakan waktu cukup lama (berjam-jam),maka bintang laut berduri makan hanya sekali atau dua kali sehari, sekalipun banyak sekali karang yang tersedia. Pada umumnya bintang laut berduri lebihmenyukai jenis karang yang bertumbuh cepat sepertiAcropora spp. Akan tetapibila Acropora tidak banyak melimpah, mereka akan menggantinya dan memakan lebih banyak pada karang-karang besar dan padat lainnya (massive). Oleh karena karang-karang pembentuk terumbu mempunyai lapisan jaringan tubuh yang tipispada kerangka tubuh kapur, maka proses memakannya adalah mengeluarkanjaringan tubuh yang tipis tersebut sebagai makanannya setelah itu bintang lautberduri akan meninggalkan area tersebut yang akan terlihat seperti kerangka putihyang secara kasar menggambarkan besaran atau luasan dari cara makan bintanglaut berduri. Adanya kerangka putih akibat pemangsaan ini merupakan buktipertama dari adanya bintang laut berduri di suatu kawasan terumbu karang.

Spesies ini dapat dikatakan sebagai predator yang efisien, dapat menghabiskan suatu luasan sekitar lima sampai 13 m2 karang hidup pertahun (Lassig,1995). Jika terjadi ledakan populasi maka akan terdapat ratusan bahkan ribuan bintang laut seribu terkonsentrasi dalam suatu areal sempit. Di Pulau Kapoposang sendiri pada tahun 1995 serti yang dilaporkan,peledakan populasi mencapai 120 individu/100m2 atau setara dengan 1,2 individu per m2 (Yusuf,2008). Dari laporan di atas maka dapat dibayangkan seberapa besar dampak kerusakan terumbu karang akibat ledakan polulasi spesies ini.

Walaupun dianggap desktruktif, ada beberapa teori yang mengatakan bahwa  sebenarnya Acanchaster plancii adalah predator yang penting untuk ekosistem terumbu karang, sehingga terjadi rekruitmen karang baru yang menggantikan koloni-koloni tua, juga mengurangi tekanan kompetisi antara satu spesies karang dengan yang lain. Namun jika spesies ini hadir dalam jumlah yang besar maka hal ini dapat menjadi masalah karena dapat menghancurkan terumbu karang yang ada di perairan.

Pertanyaan yang timbul kemudian mengapa ledakan populasi Acanchaster plancii bisa terjadi, sampai saat ini penyebab outbreak A.plancii masih menjadi misteri. Ada 3 teori yang mendapat dukungan dari para ahli antara lain:

(1). Peledakan populasi merupakan hal yang alami.

Meningkatnya konsentrasi nutrient dan unsure hara dapat meningkatkan jumlah fitoplankton yang menjadi makanan A.plancii pada periode planktonis dalam siklus hidupnya. Ada kemungkinan daerah-daerah yang memiliki spot-spot upwelling yang membawa fitoplanton (khususnya pikoplankton), bakteri dan bahan organik terlarut. merupakan daerah yang disukai oleh A.plancii karena menyangkut ketersediaan makanan.

(2) Eksploitasi predator alami A.plancii.

A.plancii.memiliki predator alami yang dapat mengontrol jumlah populasinya di perairan, Charonia tritonis, Napoleon (Cheilinus undulates),Kakap Merah (Lutjanus bohar), udang Hymenoptera picta dan lobster (Panilurus pencillatus) juga merupakan pemangsa anakan kecil A. planci. Namun karena spesies-spesies yang merupakan predator alami A.plancii merupakan spesies dengan nilai ekonomi tinggi sehingga banyak diambil oleh nelayan. Bahkan disinyalir di beberapa daerah sangat jarang lagi ditemukan spesies-spesies tersebut. Hilangnya predator alami menyebabkan tidak terkontrolnya populasi A.plancii.

(3) Bertambahnya makanan karena kegiatan manusia di wilayah pesisir

Penggunaan pupuk di daerah pertanian merupakan sumber makanan bagi A.plancii, sisa-sisa pupuk mengalir melalui got-got menuju sungai dan akhirnya bermuara ke laut dan mengalirkan sumber nutrient. Selain itu meningkatnya pembangunan kawasan pesisir memberikan andil bagi pengayaan nutrient di perairan.

Dari 3 penyebab terjadinya ledakan populasi, dua diantaranya merupakan akibat kesalahan manusia. peningkatan populasi A.plancii di tahun 2005 pernah terjadi di TWP Kapoposang dan menyisakan areal terumbu karang rusak yang sangat luas. Aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan over eksploitasi terhadap spesies Charonia tritonis, Napoleon (Cheilinus undulates),Kakap Merah (Lutjanus bohar) merupakan faktor penyebab peningkatan populasi A.plancii. Peristiwa ini menjadi pengalaman berharga bagi pengelolaan TWP Kepulauan Kapoposang. Regulasi,pengaturan dan pengawasan yang ketat mengenai pemanfaatan spesies-spesies tersebut mutlak diberlakukan oleh BKKPN sebagai pengelola kawasan konservasi TWP Kapoposang sehingga keseimbangan ekosistem yang ada di kawasan konservasi dapat dijaga.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Echinodermata
http://mycoralreef.wordpress.com/2009/01/26/bintang-laut-mahkota-duri-acanthaster-planci-asteroidea/
http://erghimuhammadnur2412.wordpress.com/2010/05/27/prinsip-ekologi-populasi-2/
http://www.scribd.com/doc/22960800/Strategi-Pemangsaan-Bintang-Laut-Berduri
http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/resources/jeffrey_jeffords/misc.inverts/crown-of-thorns.jpg/view.html


Responses

  1. Apakah Bintang laut berduri ini sangat merisaukan?

    • Sangat merisaukan,dari hasil penelitian pusat penelitian terumbu karang,di tahun 2005 populasi hewan ini memuncak hampir di semua titik utara dan barat.
      Kepadatannya mencapa 120 ekor/100m2 dan dalam jangka waktu 6 bulan persentase trumbu karang menurun dari 60% menjadi 10-25%.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: