Oleh: twpkapoposang | Mei 19, 2014

Refleksi 3 Tahun Pengelolaan Spesies Penyu TWP Kepulauan Kapoposang


IMG_37608235748335Dalam renstra konservasi jenis spesies aquatic kementerian kelautan dan perikanan 2010-2014, spesies penyu laut marupakan salah satu dari 15 spesies yang dimasukkan kedalam spesies prioritas karena populasinya yang kian terancam. Di dalam Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999, penyu digolongkan kedalam spesies dilindungi. Di dalam konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar, spesies penyu tergolong ke dalam Apendiks I yang mana satwa liar tersebut dilarang dalam segala bentuk perdagangan baik induk, anakan dan produk turunannya. Adapun di dalam IUCN status penyu berada pada golongan terancam punah

Kenyataan tersebut menunjukkan betapa kondisi penyu saat ini secara nasional IMG_37619337738081dan global sangat langka keberadaannya, terkait dengan proses reproduksinya yang berlangsung lama, disamping itu pula gangguan manusia baik terhadap individu spesies itu sendiri maupun terhadap habitatnya menjadi penyebab spesies ini sangat langka. Kondisi sosial budaya hampir di seluruh wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia merupakan ancaman nyata populasi spesies penyu di perairan kita, dimasukkannya penyu sebagai bagian dari tradisi adat utamanya di daerah bali sangat berdampak terhadap penurunan populasi penyu, mengingat pola migrasi yang sangat luas sehingga berdampak sistemik. Selain itu stigma sebagian masyarakat kita akan khasiat telur penyu dalam hal vitalitas sangat kental di dalam masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil salah satu contoh kondisi social budaya masyarakat yang ikut andil terhadap penurunan populasi penyu di wilayah perairan kita. Abrasi pantai yang terjadi di pulau-pulau kecil menyebabkan kemiringan pantai yang ideal terhadap pendaratan penyu menjadi rusak.

IMG_37630861022994Kepulauan Pangkajene dan Kepulauan merupakan kabupaten yang mempunyai wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan potensi di sektor kelautan dan perikanan yang sangat tinggi, jumlah pulau yang mencapai ratusan yang terbagi menjadi 3 kecamatan merupakan potensi yang sangat potensial untuk dikembangkan. Namun potensi terkait populasi penyu di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan belum terkelola, pantai peneluran penyu di pesisir dan pulau-pulau kecil belum teridentifikasi dengan baik sehingga pengelolaan spesies penyu masih kalah pamor dibandingkan pengelolaan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan di sector lain. Penurunan populasi terus menurun karena belum adanya langkah-langkah penyelamatan secara total dilakukan.

Kepulauan Kapoposang yang terdiri atas enam pulau yakni Pulau Kapoposang, Pulau Papandangan, Pulau Gondong Bali, Pulau Tambakhulu, Pulau Pamanggangan, dan Pulau Suranti sejak tahun 1996 telah ditetapkan menjadi kawasan konservasi yang ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (Balai BKSDA) Sulawesi Selatan, dari sekian banyak kegiatan konservasi dalam bentuk perlindungan dilakukan di kawasan ini, namun penyelamatan terhadap spesies penyu sama sekali belum dilakukan sehingga masyarakat dengan leluasa melakukan perburuan terhadap telur penyu di pinggir pantai, bahkan kegiatan tersebut telah berlangsung cukup lama dan menjadi sesuatu yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Kegiatan perburuan telur penyu saat ini telah menjadi budaya bagi masyarakat di TWP Kepulauan Kapoposang utamanya Pulau Kapoposang, di saat memasuki musim bertelur masyarakat berlomba mencari telur di pinggir pantai untuk dikonsumsi bersama dengan keluarga. Telur penyu menjadi sesuatu yang sangat prestisius dikala memasuki musim barat dengan gelombang tinggi yang datangnya bersamaan dengan musim reproduksi penyu sisik dan penyu hijau di Pulau Kapoposang. Memasuki musim tersebut sebagian besar para nelayan di Pulau ini tidak melaut akibat cuaca yang tidak bersahabat kemudian mereka mengisi waktu dengan berburu telur penyu sepanjang malam.

Pengelolaan Spesies Penyu di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya telah dilakukan selama kurun waktu 2010 sampai dengan 2013, upaya semaksimal mungkin telah dilakukan sebagai upaya konservasi untuk menjaga populasi biota langka dan dilindungi tersebut dari kepunahan sebagai bagian dari upaya global yang dilakukan di hampir setiap negara di belahan dunia. Dalam rentan waktu tersebut, berbagai kegiatan telah dilakukan dengan melibatkan stakeholder yang fokus dalam hal penyelamatan biota langka baik dari unsur pemerintahan seperti dinas kelautan dan perikanan pangkep,BBKSDA,BPSPL Makassar,PSDKP dan Badan Lingkungan Hidup Daerah. Selain itu dari unsur masyarakat dalam bentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Masyarakat Pulau Kapoposang sendiri turut terlibat.

Grafik PeneluranGrafik diatas menggambarkan jumlah telur yang berhasil di amankan oleh pengelola dan kelompok konservasi Pulau Kapoposang dalam rentang waktu 2010-2013, upaya tersebut dilakukan untuk mencegah pengambilan telur penyu untuk konsumsi oleh sebagian masyarakat Pulau Kapoposang yang sampai saat ini masih gemar melakukan perburuan telur penyu dikala memasuki musim reproduksi. jumlah telur penyu yang berhasil diamankan berjumlah 1214 butir telur penyu dengan perincian sebanyak 1029 butir dari spesies penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan sebanyak 185 butir dari spesies Penyu Hijau (Celonia mydas)

Grafik peneluran tersebut juga menunjukkan  musim peneluran penyu di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya berlangsung selama enam bulan dalam satu kalender reproduksi. Dimulai dari bulan Desember dan berakhir pada bulan Mei, disaat itu pencarian intens dilakukan oleh Pengelola dan Kelompok Konservasi yang telah terbentuk sejak tahun 2009 di Pulau Kapoposang.  Waktu peneluran dimulai pada saat matahari tenggelam dan paling banyak ditemukan ketika suasana gelap gulita (jam 21.00- 02.00) untuk spesies penyu hijau sedangkan untuk penyu sisik waktu peneluran biasanya tidak terduga, kadang ditemukan pada malam hari dan terkadang pula ditemukan pada siang hari.

Memasuki waktu pasang tertinggi, induk penyu berenang mendekati pantai dan muncul dari hempasan ombak, naik ke pantai dan memperhatikan kondisi di sekeliling pantai. Pada saat ini induk penyu sedang mencari pasir yang cocok sebagai tempat penetasan. Jika tidak cocok induk penyu akan meninggalkan tempat tersebut dan mencari lokasi lain. Prosesi bertelur induk penyu memakan waktu 2 sampai dengan 3 jam, induk penyu naik pada saat tertinggi kemudian selesai bertelur dan turun kembali ke laut pada saat air laut surut, pada saat induk penyu turun kembali ke laut ke laut meninggalkan jejak yang sangat khas di pasir karena air laut telah surut sehingga memudahkan pada saat pencarian telur penyu.

Dalam sekali masa reproduksi, seekor induk penyu dapat menetas 4 sampai dengan 5 kali dengan jumlah telur yang bervariasi, peneluran pertama sampai dengan peneluran terakhir biasanya jumlah telur bertambah sedikit. Antara penetasan pertama dan kedua terdapat rentang waktu kurang lebih 2 minggu, begitu pula pada penetasan ke-3, ke-4 dan seterusnya.

Grafik Penetasan

Grafik diatas menggambarkan jumlah tukik yang berhasil ditetaskan di Pulau Kapoposang, jumlah tukik yang berhasil ditetaskan sebanyak 629 ekor tukik dari 1214 butir telur penyu yang diamankan. survival rate rata-rata masih rendah hanya berkisar 51,8%. Untuk itu, perlatihan maupun studi banding perlu dilakukan ke lokasi lain yang telah berhasil dalam kegiatan tersebut untuk peningkatan SDM baik  pengelola maupun kelompok konservasi di Pulau Kapoposang.

Lokasi penetasan telur penyu secara alami dilakukan di daerah supertidal, yaitu daerah dimana sudah tidak ada lagi pengaruh pasang tertinggi. Pada lokasi tersebut, dibuat beberapa lubang telur penyu buatan sebagai tempat penetasan telur semi alami. Kawasan lubang-lubang telur penyu buatan tersebut diberi pagar pada sekelilingnya, berupa pagar permanen yang terbuat dari rang besi dengan pagar cor pada bagian bawahnya.

Telur penyu yang diambil dari lubang alami kemudian dengan segera dibawa ke lubang buatan yang terletak di fasilitas penangkaran penyu Pulau Kapoposang, lubang buatan dibuat persis sama seperti lubang alaminya agar persentase survival yang didapatkan tinggi. Lama penetasan telur penyu sampai telur penyu menetas menjadi tukik membutuhkan waktu antara 45-60 hari. Jika memasuki waktu tersebut tukik belum juga keluar perlu dibantu dengan menggali lubang buatan agar tukik-tukik bisa keluar dari lubang buatanya. Untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan wisata, sebagian tukik yang baru menetas sebagian disisihkan ke dalam bak pemeliharaan untuk ditetaskan

Pelibatan masyarakat cukup efektif dalam mendukung kegiatan tersebut, beberapa masyarakat yang dulunya sering melakukan perburuan telur penyu akhirnya dapat ditarik ke dalam kelompok dan ikut aktif dalam kegiatan tersebut. Namun saat ini masih sebagian kecil masIMG_1858yarakat saja yang mulai menyadari pentingnya pelestarian spesies ini karena merubah pola pikir masyarakat bukanlah hal yang mudah, apalagi kegiatan tersebut sudah berlangsung lama dan menjadi bagian dalam kehidupan social budaya masyakat di pesisir dan pulau-pulau kecil. Hal ini membutuhkan waktu, sedangkan cara-cara represif bukan jalan yang bijak dalam hal pengelolaan spesies penyu di Pulau Kapoposang. Percontohan berupa demonstration plot menurut kami cara yang efektif, disamping itu pelibatan masyarakat dalam bentuk kelompok yang dibina dan didampingi secara intensif merupakan awal pijakan yang kuat untuk menjadikan program tersebut sebagai program yang wajib untuk diutamakan dalam pengelolaan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya. Potensi spesies penyu untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat yang berada di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya harus diperkenalkan dalam bentuk lain, bukan dengan mengeksploitasi penyu dan telur sebagai bahan konsumsi ataupun bahan cinderamata.

disamping masalah tersebut ada pula kendala alam yang saat ini menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan spesies tersebut, diIMG_1859 beberapa titik area pendaratan penyu di Pulau Kapoposang, bahkan di fasilitas rumah penangkaran dan bak penetasan yang ada di Pulau Kapoposang terkena abrasi. Abrasi pantai menjadi kendala karena pada saat melakukan pendaratan penyu, induk penyu membutuhkan kemiringan tertentu sehingga memudahkan untuk merangkak ke pantai,  hal ini tentunya harus menjadi perhatian kedepan untuk pengelolaan selanjutnya.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: