Oleh: twpkapoposang | September 29, 2014

Rencana Zonasi TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya


Secara administratif, TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya terletak di Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, mencakup Pulau Kapoposang dan Pulau Papandangan yang masuk wilayah administratif desa Mattiro Ujung, serta Pulau Gondongbali, Pulau Tambakulu dan Pulau Suranti yang masuk wilayah administratif desa Mattiro Matae. Tata batas kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan laut di sekitarnya disusun dalam bentuk peta, titik batas ujung-ujung kawasan harus terlihat dan dilengkapi informasi koordinat, jarak dalam satuan kilometer serta gambaran posisinya dalam peta keseluruhan. Di lapangan, tata batas tersebut harus dibuat dalam bentuk tanda batas yang mudah dilihat oleh perahu/kapal yang melintas atau nelayan yang melakukan aktivitas penangkapan.

Dua bentuk tanda batas TWP antara lain, pertama: tanda batas dengan menggunakan pelampung yang diberi konstruksi pemberat semacam rumpon sehingga ia sekaligus berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan; kedua: tanda batas dari bahan yang lebih permanen dan dengan warna yang mudah dilihat, untuk menghindarkan klaim penguasaan pada pihak nelayan.

Zonasi kawasan konservasi perairan merupakan suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang di kawasan konservasi perairan melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-prosess ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan ekosistem. Output ini menjadi dasar pendekatan pengelolaan wilayah dalam kawasan   konservasi laut secara fungsional. Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber daya Ikan Pasal 17 ayat 3 dan 4 menjelaskan bahwa Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan dilakukan berdasarkan system zonasi; dan Sistem Zonasi Kawasan Konservasi Perairan sebagaimana dimaksud terdiri dari : Zona inti, Zona perikanan berkelanjutan, Zona Pemanfaatan, dan Zona lainnya sesuai dengan karakteristik dan peruntukannya di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya.

Zonasi TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya. mengacu pada pembagian zonasi yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.30/MEN/2010. Penetapan zonasi didasarkan pada berbagai hasil studi dan analisis yang mendalam, ground-truthing dan konsultasi publik dengan stakeholder terkait di tingkat kabupaten, desa dan dusun, dimana hal yang terpenting adalah konsultasi publik dengan masyarakat di sekitar kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya, sebagaimana ditunjukkan dalam peta zonasi kawasan

KapoposangA0_KOor - CopyPeta Zonasi Kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya

Kapoposanng2011-14 - CopyPeta Detail Zonasi TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya

Kapoposanng2011-23 - CopyPeta Detail Zonasi TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya

Kapoposanng2011-12 - CopyPeta Detail Zonasi TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya

Kapoposanng2011-21 - CopyPeta Detail Zonasi TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya

a. Zona Inti

Dalam menetapkan zona inti TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya dilakukan analisis ekologi-ekonomi sebagai bahan pertimbangan untuk memilih lokasi yang berpotensi. Hasil evaluasi dari parameter ekologi, ekonomi dan sosial juga dijadikan pertimbangan untuk menetapkan zonasi. Lokasi yang diprioritaskan dinilai yaitu 6 buah pulau yang ada di dalam TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya yaitu Pulau Kapoposang, Pulau Gondongbali, Pulau Papandangan, Pulau Pamanggangan, Pulau Tambakhulu dan Pulau Suranti. Keenam lokasi ini merupakan rencana dari penetapan zona inti TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya. Kriteria dari setiap parameter yang dikaji seperti berikut:

  • Kriteria biofisik mencakup arus, kecerahan, dan paparan gelombang serta struktur partikel lokasi, serta luas hamparan karang;
  • Kriteria ekologi mencakup, diversitas lamun, densitas lamun, coverage lamun, diversitas karang, densitas karang, biota asosiasi;
  • Kriteria ekonomi mencakup diversitas ikan karang, densitas ikan karang, produktivitas;
  • Kriteria sosial mencakup tingkat interaksi dengan lokasi, aksesibilitas, dan nilai sosial budaya setempat, penduduk.

Keempat parameter ini dipilih sebagai parameter yang akan diacu dalam penetapan zona inti dengan teknik analisa multi criteria skala (MCA) menurut (Brown et al, 2001). Nilai dari setiap kriteria kemudian akan diskala untuk menentukan skor dari tiap lokasi. Nilai skor ini kemudian dijadikan sebagai salah satu pertimbangan penetapan zonasi. Enam lokasi yang dipilih adalah lokasi pulau Induk yang terdapat di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya yaitu Pulau Kapoposang, Gondongbali, Tambakulu, Suranti, Pemanganan, Papandangan.

Zona inti kawasan konservasi perairan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya terdapat di 2 (dua) lokasi dengan luas total 1.086,87 ha (2,22% dari total luas kawasan)

Zona inti dalam kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya, yaitu perairan pulau Kapoposang dan pulau Suranti merupakan lokasi memijah ikan (spawning ground), lokasi pemihajan (Spawning ground) untuk spesies kima (Tridacna squamosa, Tridacna gigas, Hipopus hipopus)dan juga habitat bagi penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricate). Beberapa area pantai di zona ini merupakan area pendaratan induk penyu untuk melakukan peneluran.

Selain itu pula daerah ini memiliki keanekaragaman ekosistem laut seperti Ekosistem Terumbu Karang dan Padang Lamun yang tinggi yang berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground) dan daerah mencari makanan (feeding ground) sehingga diharapkan dengan penetapan daerah ini sebagai zona inti dapat membawa plasma nutfah ke daerah lain di luar zona inti (Spill Over).

Zona inti TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya bertujuan untuk: (1) Melindungi ekosistem; habitat penyu hijau dan penyu sisik serta populasi ikan di kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya, (2) Penelitian, dan (3) Pendidikan.

Zona Inti (core zone atau sanctuaries), merupakan habitat yang mempunyai nilai konservasi yang sangat tinggi dan sangat rentan, sehingga tidak diperkenankan kegiatan yang ekstra aktif diijinkan dalam zona inti. Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber daya Ikan, zona inti diperuntukkan bagi perlindungan mutlak habitat dan populasi sumber daya ikan, penelitian dan pendidikan.

b. Zona Perikanan Berkelanjutan

Zona Perikanan Berkelnjutan Umum di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya memiliki potensi berupa ikan pelagis, baik ikan pelagis besar dan kecil. Di aereal laut dalam pada zona ini utamanya area yang berada di dekat batas kawasan, masyarakat dari Pulau Papandangan memanfaatkannya dengan memasang rumpon laut dalam untuk memancing ikan pelagis berkumpul di daerah tersebut.

Sedangkan Zona Perikanan Berkelanjutan Umum yang lokasinya berada pada kedalaman dangkal yaitu yang terletak di reef flat Pulau Gondongbali memiliki potensi berupa ikan karang, ikan hias, kerang-kerangan dan gurita. Zona Perikanan Berkelanjutan adalah bagian kawasan konservasi perairan yang karena letak, kondisi dan potensinya mampu mendukung pelestarian pada zona inti dan zona pemanfaatan.

Sub Zona Perikanan Berkelanjutan Umum adalah zona perikanan berkelanjutan yang memungkinkan untuk berbagai pemanfaatan ramah lingkungan dan mendukung perikanan berkelanjutan yang bersifat komersial yang ramah lingkungan dan berdampak rendah bagi lingkungan.

Sub Zona perikanan berkelanjutan umum terletak di perairan di luar Pulau-Pulau dan Gosong-Gosong di TWP Kepulauan Kapoposang, dengan luas total 39.340,3 ha (78,7%) dari total luas kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya.

Tujuan Zona perikanan berkelanjutan dalam kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya yaitu sebagai lokasi untuk melakukan aktivitas perikanan bagi masyarakat sekitar kawasan, khususnya aktivitas penangkapan ikan dan budidaya khususnya aktivitas budidaya perikanan laut (mariculture). Zona Perikanan Berkelanjutan Umum di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya memiliki potensi berupa ikan pelagis, baik ikan pelagis besar dan kecil. Di aereal laut dalam pada zona ini utamanya area yang berada di dekat batas kawasan, masyarakat dari Pulau Papandangan memanfaatkannya dengan memasang rumpon laut dalam untuk memancing ikan pelagis berkumpul di daerah tersebut. Sedangkan Zona Perikanan Berkelanjutan Umum yang lokasinya berada pada kedalaman dangkal yaitu yang terletak di reef flat Pulau Gondongbali memiliki potensi berupa ikan karang, ikan hias, kerang-kerangan dan gurita.

c. Zona Perikanan Tradisional

Sub Zona Perikanan Berkelanjutan Tradisional adalah zona perikanan berkelanjutan yang memungkinkan untuk berbagai pemanfaatan ramah lingkungan dan untuk mendukung kegiatan perikanan artisanal (skala kecil atau tradisional) bagi masyarakat setempat yang didalamnya terdapat beberapa pengaturan penggunaan alat tangkap yang bersifat tradisional untuk mengakomodir kepentingan nelayan-nelayan lokal dalam kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya yang sebagian besar dalam kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap tradisional yang ramah lingkungan dengan armada penangkapan yang sederhana seperti sampan dan perahu berukuran GT kecil.

Sub zona perikanan berkelanjutan tradisional tedapat dua area dan mempunyai total luas kawasan sebesar 3.414 Ha atau 6,8% dari luas keseluruhan kawasan. Sub zona perikanan berkelanjutan tradisional 1 memiliki luas 3.257 Ha atau 6,5% yang meliputi Pulau Suranti dan Pulau Pamanggangan, sedangkan untuk Sub zona perikanan berkelanjutan tradisional 2 berada di sekitar Pulau Kapoposang memiliki luas 156,9 Ha atau 0,3% dari luas keseluruhan. Adapun pemanfaatannya hanya oleh masyarakat lokal di Pulau Suranti, Pulau Pamanggangan dan Pulau Kapoposang begitu juga dengan waktu penangkapannya yang dibatasi dalam periode tertentu.

Sub Zona Perikanan Berkelanjutan Tradisional merupakan Sub Zona Perikanan yang diperuntukkan untuk nelayan tradisional dengan alat yang sederhana dengan armada penangkapan berupa kapal/perahu kecil.

Potensi yang dimiliki pada zona perikanan tradisional adalah potensi ikan teri (Anchovy) yang ditangkap oleh masyarakat di Pulau Gondong Bali secara tradisional . Pada zona ini teridentifikasi pula keberadaan spesies Hiu Paus (Rychodon thypus) yang merupakan yang saling berkorelasi dengan ikan teri (Anchovy) sebagai predator alami.

Hiu PausHiu Paus (Rychodon thypus) teridentifikasi di perairan P.Gondong Bali sampai P.Pamanggangan

Sisi positif dari pengelolaan Hiu Paus kedepannya yaitu dengan adanya kearifan lokal masyarakat di Selat Makassar pada umumnya yang menganggap bahwa keberadaaan Hiu Paus pada saat melakukan kegiatan penangkapan akan membawa keberuntungan bagi nelayan, sehingga praktis spesies ini tidak mendapatkan ancaman dan bukan merupakan spesies target. Aktifitas penangkapan ikan teri yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Gondong Bali juga masih menggunakan alat tangkap yang sangat tradisional disebut dengan nama “ma‘perre-perre” sehingga tidak mengganggu keberadaan spesies Hiu Paus di Taman Wisata Perairan Kep.Kapoposang dan Laut Sekitarnya.

d. Zona Pemanfaatan

Zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan konservasi perairan yang letak, kondisi dan potensi alamnya diutamakan untuk keperluan parwisata alam perairan serta untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. Zona pemanfaatan kawasan konservasi perairan TWP Kepulauan Kapoposang terdiri dari 8 (delapan) lokasi dengan luas total 6.123 ha (12,2%) dari total luas kawasan

Pemanfaatan merupakan bagian dari zonasi di kawasan Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya yang diperuntukkan sebagai (a) pariwisata dan rekreasi; (b) perlindungan habitat dan populasi ikan; (c) penelitian dan pengembangan; dan (d) pendidikan. Berkaitan dengan fungsinya sebagai daerah pengembangan ekowisata sehingga di dalam zona ini dimungkinkan dibangun sarana dan prasarana pariwisata alam. Namun, di zona ini tidak diperkenankan melakukan aktifitas/kegiatan pemanenan (no take zone).

e. Zona Rehabilitasi

Zona lainnya merupakan zona di luar zona inti, zona perikanan berkelanjutan, dan zona pemanfaatan yang karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu antara lain: zona perlindungan, zona rehabilitasi dan sebagainya. Zona lainnya dalam kawasan konservasi perairan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya yaitu zona rehabilitasi

Peruntukan Zona Lainnya dapat berupa zona rehabilitasi pada TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya untuk pemulihan ekosistem terumbu karang yang sudah rusak sebagai upaya mendukung konservasi di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: