Oleh: twpkapoposang | Mei 19, 2015

Monitoring Keanekaragaman dan Kelimpahan Ikan Karang pada Transplantasi Karang Piracora


DCIM100GOPRO Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya merupakan salah satu dari 7 kawasan konservasi perairan nasional di bawah pengelolaan Balai KKPN Kupang, sebagai managemen authority Balai KKPN Kupang melaksanakan upaya-upaya pengelolaan kawasan konservasi perairan nasional berupa pemangkuan, pemanfaatan dan pengawasan terhadap kawasan konservasi perairan. Salah satu bentuk upaya pengawasan dan pengendalian yang dilakukan adalah kegiatan Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang Kondisi terumbu karang di TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan setiap tahunnya menunjukkan adanya penurunan persentase penutupan karang hidup.

Penurunan kondisi disebabkan oleh faktor alami berupa pemanasan global (global warming) maupun faktor gangguan manusia yaitu penggunaan alat tangkap yang merusak (destructive fishing). Untuk memperbaiki kondisi terumbu karang di TWP Kepulauan Kapoposang, dilaksanakan melalui kegiatan rehabilitasi ekosistem dengan menggunakan metode transplantasi terumbu karang. Transplantasi terumbu karang pada prinsipnya merupakan kegiatan memindahkan karang dari lokasi terumbu karang yang bagus dengan metode pencangkokan anakan karang ke lokasi yang terumbu karangnya rusak.

Pengambilan bibit dilakukan dengan memotong cabang karang dengan tujuan untuk memperluas atau membuat habitat karang baru di area terumbu karang yang mengalami kerusakan. Kegiatan transplantasi telah dilakukan pada kegiatan rehabilitasi ekosistem di kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut sekitarnya oleh pihak ketiga melalui penganggaran BKKPN Kupang tahun tahun anggaran 2014 pada bulan November 2014, sampai saat ini anakan karang telah berusia kurang lebih 6 bulan.

Untuk mengetahui keberhasilan dari kegiatan tersebut maka diperlukan monitoring untuk memelihara anakan karang dan untuk mengetahui keberhasilan kegiatan yang telah dilakukan. Kegiatan monitoring dilakukan dengan penyelaman pada area transplantasi terumbu karang di Pulau Kapoposang. Pengamatan dilakukan terhadap anakan karang dan kelimpahan spesies ikan karang untuk mengetahui perkembangan kegiatan transplantasi. Dengan adanya kegiatan monitoring diharapkan pertumbuhan karang di meja transplantasi dapat tumbuh dengan baik sehingga output dari kegiatan tersebut dapat tercapai.

METODE MONITORING

Monitoring transplantasi dilakukan dengan penyelaman pada area transplantasi selama kurang lebih 1 (satu) jam. Dalam penyelaman, surveyor melakukan pengambilan data ikan karang dengan menggunakan metode Fish Stationery Plot Survey (survey ikan secara diam). Ikan berada dalam sebuah tabung imajiner yang dihitung oleh penyelam yang mengamati dari dalam daerah pengamatan.

ANALISIS DATA

Analisis dalam pengamatan ikan karang pada transplantasi yakni dengan menghitung jumlah family, genera, spesies dan kelimpahan individu ikan karang yang hidup dan berlindung pada transplantasi. Selain itu spesies ikan karang dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu:

  1. Ikan Target : adalah kelompok ikan yang menjadi target nelayan, umumnya merupakan ikan pangan dan bernilai ekonomis. Kelompok ikan ini terdiri atas family: Serranidae (Kerapu), Lutjanidae (Kakap), Lethrenidae (ikan lencam), Nemipteridae (ikan kurisi), Caesionidae (ikan ekor kuning), Siganidae (Baronang), Haemulidae (ikan bibir tebal), Scaridae (ikan kakaktua), dan Acanthuridae (ikan kulit pasir)
  2. Ikan Indikator : adalah kelompok ikan karang yang dijadikan indikator, diwakili oleh family Chaetodontidae (ikan kepe-kepe). Kelimpahan dihitung secara kuantitatif.
  3. Ikan Mayor : adalah kelompok ikan karang yang sering dijumpai di terumbu karang yang tidak termasuk dalam kedua kategori tersebut di atas. Kebanyakan merupakan ikan herbivore dan mempunyai porsi kelimpahan paling tinggi di dalam ekosistem terumbu karang.

HASIL MONITORING

Setelah kegiatan tersebut dilakukan, pada kenyataannya dilapangan sebagian besar anakan karang yang ditanam dalam kegiatan tersebut memutih (bleaching) dan mengalami kematian. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap metode, keterangan dari tenaga kontrak di Pulau Kapoposang, dan berdasarkan pengamatan video hasil kegiatan rehabilitasi ekosistem yang dilakukan oleh konsultan, terdapat beberapa kekurangan dalam hal teknis pelaksanaan kegiatan rehabilitasi sehingga menyebabkan anakan/fragmen karang mengalami kematian. Hasil evaluasi adalah sebagai berikut:

  • Pemasangan bibit dilakukan di udara terbuka, selain itu anakan karang terlalu lama terekspose di udara sehingga anakan karang mengalami stres dan tidak dapat bertahan hidup pada meja transplantasiANAKAN

Gambar 1. Anakan karang yang terekspose udara cukup lama (sumber foto: Laporan kegiatan rehabilitasi ekosistem BKKPN Kupang)

  • Pemasangan anakan karang dan meja transplantasi dilakukan pada saat hujan sehingga anakan karang terkena air tawar dan mengalami anakan karang stress dan akhirnya memutih (bleaching).Substrate berupa beton berbentuk segi empat yang digunakan sebagai media untuk melekatkan anakan/fragmen karang tidak terpasang permanen pada meja transplantasi. Untuk melekatkan substrat ke meja transplantasi menggunakan tali monofilamen (tasi). Beberapa substrat terlihat tidak tahan terhadap gelombang sehingga anakan beserta substrat nya lepas dari meja transplant.

Melihat kondisi tersebut, atas inisiatif tenaga kontrak BKKPN Kupang di Pulau Kapoposang, anakan karang yang memutih kemudian diganti dengan anakan baru yang ada di sekitar meja transplantasi. Pengambilan anakan karang dilakukan dengan melakukan penyelaman untuk memotong anakan karang dari koloninya kemudian mengikat anakan karang ke substrat, namun kali ini anakan karang tidak dibawa naik ke permukaan melainkan dibawa oleh penyelam dan langsung diikatkan pada substrat.

Meja 1Gambar 2. Anakan karang usia 1 hari (sumber foto: Laporan kegiatan rehabilitasi ekosistem BKKPN Kupang)

Fragmen karang  yang ditransplantasi berukuran sekitar 10 cm setiap anakan. Saat ini setelah dilakukan monitoring anakan karang yang telah berusia 6 bulan dalam kondisi sehat dan mengalami peningkatan ukuran sekitar 4 cm setiap anakan pada masing masing meja transplan. Meja 2

Gambar 3. Anakan karang usia 1 hari (sumber foto: Laporan kegiatan rehabilitasi ekosistem BKKPN Kupang)

Meja 3

Gambar 3. Anakan usia 1 hari (sumber foto: Laporan kegiatan rehabilitasi ekosistem BKKPN Kupang)

DCIM100GOPRO

Gambar 4. Anakan usia 6 bulan (sumber foto: Ilham)

DCIM100GOPRO

Gambar 5. Anakan usia 6 bulan (sumber foto: Ilham)

DCIM100GOPRO

Gambar 7. Anakan usia 6 bulan (sumber foto: Ilham)

KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN IKAN KARANG

Berdasarkan hasil pengamatan ikan karang yang hidup dan berlindung di area transplantasi, ditemukan total kelimpahan ikan karang sebanyak 102 individu yang terdiri atas 12 family, 23 genera dan 29 spesies. Jumlah genera dari family pomacentridae terbanyak ditemukan yaitu 4 genera, kemudian dari family labridae, Acanthuridae, Nemipteridae, dan Scaridae sebanyak 3 genera. Adapun jumlah individu terbanyak ditemukan adalah dari family Pomacentridae sebanyak 50 individu. Family pomacetridae memiliki kelimpahan individu tertinggi karena family Pomacentridae merupakan kelompok ikan mayor dengan rasio antar kelompok yang paling tinggi.

Terjadi peningkatan keanekaragaman spesies pada saat transplan berusia satu hari dan setelah dilakukan monitoring pada transplantasi setelah berumur 6 bulan. Pada saat anakan transplantasi berumur 1 hari, hanya ditemukan 10 spesies ikan karang yang berasal dari kelompok ikan mayor sebanyak 8 spesies dan ikan target sebanyak 2 spesies dan tidak ditemukan ikan indikator sama sekali. Setelah dilakukan monitoring pada anakan transplantasi berumur 6 bulan, ditemukan 29 spesies yang berasal dari kelompok ikan mayor sebanyak 11 spesies, ikan target sebanyak 15 spesies dan ikan indikator sebanyak 3 spesies (gambar 8). Grafik

Gambar 8. Grafik Perkembangan Keanekaragaman Spesies Karang Transplantasi

 Tingginya keanekaragaman ikan target merupakan salah satu indikator keberhasilan kegiatan rehabilitasi. Selain bertujuan untuk memperluas persentase penutupan karang hidup, transplantasi juga berperan sebagai penarik ikan (fish aggregation device) bernilai ekonomis tinggi yang merupakan target tangkapan nelayan. Struktur meja transplantasi yang terbuat dari beton dan disusun menyerupai piramida memungkinkan terdapatnya ruang atau celah-celah bagi ikan target untuk hidup dan mencari makan di area transplantasi.

Kehadiran ikan indikator yang diwakili oleh ikan karang dari family Chaetodontidae juga merupakan salah satu indikator bahwa anakan karang di meja transplantasi tumbuh dengan baik. Ikan indikator dari family Chaetodontidae sangat erat kaitannya dengan karang hidup, dimana karang hidup yang sehat menjadi tempat bagi ikan indikator untuk berlindung dan mencari makan.

Pertumbuhan anakan karang di meja transplantasi juga sangat ditentukan oleh adanya ikan herbivora, dari hasil monitoring ditemukan kehadiran ikan herbivore dari family Acanthuridae dan Scaridae. Terdapat dinamika yang sangat erat antara kelimpahan ikan herbivora dengan tingkat tutupan makro alga dan penempelan larva hewan karang pada substrat. Larva ikan karang (planulae) dan makroalga bersaing mendapatkan substrat untuk hidup. Namun kehadiran ikan herbivore akan mempengaruhi tingkat tutupan makroalga, karena adanya perilaku grazing, yaitu makroalga dimakan oleh ikan herbivora (Marshal & Schuttenberg). Penutupan makroalga berlebihan akan menghambat penempelan larva hewan karang sehingga akan menyebabkan anakan pada transplantasi sulit untuk berkembang.

Ditemukan pula megabenthos bernilai ekonomis penting hidup di lubang meja transplantasi yaitu dari spesies Lobster Bambu (Panulirus versicolor) sebanyak 1 individu. Hal ini menandakan bahwa metode transplantasi dengan media beton disusun berbentuk piramida sangat cocok dilakukan di kawasan TWP Kepulauan Kapoposang dan Laut Sekitarnya. lobster

Gambar 9. Lobster bambu (Panulirus versicolor) pada meja transplan (Sumber foto: Ilham)

Meja beton berbentuk piramida sangat kokoh dan berat sehingga tahan terhadap arus dan gelombang. Hal ini telah dibuktikan pada musim barat awal tahun 2015, setelah melawati musim barat dengan gelombang tinggi, kesepuluh meja transplantasi tidak mengalami pergeseran ataupun pergerakan. Sedangkan anakan karang pada substrat juga masih tetap seperti kondisi awal. Selain itu strktur bangunan dengan banyak ruang-ruang kosong memungkinkan untuk ikan-ikan karang berlindung dan mencari makan di area transplantasi.

Pada tabel 1 menjelaskan kelimpahan setiap spesies ikan karang yang berlindung dan hidup pada meja transplantasi pada umur 6 bulan.

Tabel Kelimpahan Spesies Ikan Karang pada Karang Transplantasi

Tabel


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: